Apa Benar, Karakter Merupakan Faktor Pendukung Sukses? Yuk Cek Fakta - Dogaiye Post

Breaking

Home Top Ad

No Dialog; Yes Referendum

SEGERA

Bebaskan Tahanan Politik Papua

Thursday, July 23, 2020

Apa Benar, Karakter Merupakan Faktor Pendukung Sukses? Yuk Cek Fakta

 

Marthen Kadepa Doc. Pribadi


Oleh: Marthen A. Kadepan

 

Karakter kita ibarat seperti sebuah tanggul. Fisik tanggul asal jadi dan kelihatan kuat dari luar, padahal dalamnya keropas. Dari luar dipoles cat mengkilat dan kelihatan kokoh, tetapi bagian dalamnya rapuh sehingga saat tekanan dan badan muncul tanggul itu pun langsung jebol atau runtuh.


Karakter kita biasa diibaratkan seperti sebuah bangunan rumah, sebuah rumah yang dibangun asal jadi dan kelihatan bagus, awet, menarik dan kukuh dari luar, padahal dalamnya tidak sebagus atau seelok seperti luar, itu bisa disamakan seperti rumah yang didirikan diatas pasir. Ketika banjir datang dan melanda rumah itu, dan rumah itupun langsung roboh dan hebatlah kerusakannya. Karena ia terbangun diatas kualitas fondasi  yang lemah dan tidak kokoh.


Kualitas ketahanan sebuah tanggul dan sebuah rumah hanya akan terlihat dengan jelas saat banjir besar dan tekanan air menghantam dengan kuat. Tanggul dan rumah yang terbangun dengan kualitas material yang kuat sehingga mampu bertahan untuk jangka waktu yang lama karena dibangun di atas dasar fondasi yang kokoh dan teguh. Sehingga mampu mengalahkan ancaman banjir dan tekanan air yang hebat.


Selain sebuah tanggul dan sebuah bangunan rumah, ilustrasi lain yang sama persis dengan itu yang bisa kita lihat bersama adalah sebuah pohon anggur. Kualitas dari pada sebuah pohon anggur tidak dilihat atau pun dinilai dari keelokan atau kecantikan atau atraksi pohon tersebut akan tetapi estimasi kualitas sebuah pohon dapat terlihat dengan jelas dari seberapa banyak ia menghasilkan buah. Ya tentu saja. Saya berpikir begitu. Sebagus apapun pohon itu ia tidak ada gunanya jika pohon itu tidak menghasilkan buah karena memang setiap pohon itu dikenal dari kualitas buahnya bukan dari elok atau menariknya pohon tersebut.


Tetapi pertanyaan kemudian adalah bagaimana pohon itu dapat memproduksikan buah agar dapat dikatakan pohon yang berkualitas baik? Kita mesti menjawab pertanyaan tersebut dengan persis dan akurat karena jawaban dari pertanyaan tersebutlah yang kemudian akan sangat menentukan apakah pohon tersebut berkualitas baik atau tidak. Berkualtas yang dimaksud disini bukan berarti hanya dipandang dari satu sisi namun pandangan kualitas produktivitasnya dari pada pohon itu sendiri. Itulah yang akan memperhatikan kualitasnya.


Kita pun pasti mengetahui bahwa setiap pohon berbuah yang ditanam orang pasti mempunyai alasan atau tujuan tentu oleh si penanam tersebut. Tujuan utamanya adalah agar pohon tersebut dapat menghasilkan buah. Jika tidak demikian maka tentu saja si penanam itu menebang pohon tersebut. mengapa? Karena memang ia mengharapkan buahnya dari pohon tersebut bukan lagi daun-daun, dahan-dahan, ranting-ranting atau pun bunga-bungan yang segar dan menarik dipandang tapi buahnya. Ia tidak mengharapkan keindahan itu kendati pun hal itu menarik atensi dan hasrat orang.  Baginya itu tidak ada arti apa-apanya. Sebagus apapun pohon dari luar tidak ada faedahnya selain dipotong dan dibuang ke dalam api lalu dibakar karena memang buah itulah yang penting. Jadi, sebuah pohon anggur atau pun entah jenis pohon apapun dikenal dari buahnya.


Sesungguhnya ketiga ilustrasi diatas dengan gamblang telah menggambarkan karakter dan sifat kita. Karakter kita yang dari luar kelihatan tampak kuat, tampan dan cantik padahal di dalam tidak sekuat, setampan dan secantik seperti itu. Jika kita hanya kelihatan cantik dan tampan dari kulit saja maka kita akan menjadi seperti sebuah rumah yang dibangun di atas dasar pasir dan sebuah tanggul yang didekorasi dengan beragam perhiasan dengan material yang tidak bermutu sehingga tampak cantik, awet dan menarik hanya dari luar saja padahal di dalamnya rapuh atau keropos.


Memang untuk memiliki kualitas karakter ideal yang tangguh dan tahan uji membutuhkan proses perjuangan yang cukup panjang ia memang tidak semudah seperti yang kita bayangkan atau kita pikirkan. Ia bahkan tidak bisa terjadi dalam satu minggu atau dalam satu bulan atau bahkan dalam satu tahun. Namun ia merupakan proses perjuangan sepanjang hidup. 'Ada harga yang harus dibayar.'


Tidak hanya berhenti disana akan tetapi didalam pertumbuhannya pun perlu memberlakukan tindakan konsistensi dan persistensi aplikatif yang berkelanjutan. Artinya bahwa kita harus terus-menerus mengembangkan, mengjaga, memupuk, menumbuhkan bahkan mempraktikkan dalam praktik kehidupan sehari-hari kita.


Lebih jauh lagi kualitas ketangguhan karakter kita yang sejati akan tampak dengan jelas saat tekanan, masalah dan badai hidup datang melanda dihidup kita. Jika karakter dan kekuatan kita benar-benar dibangun di atas fondasi yang kukuh maka kemungkinan besar kita akan mampu menaklukkannya dan niscaya kita akan mampu terus bertahan  terhadap setiap banjiran masalah bentuk apapun yang mesti datang menimpa di tiap segi hidup kita.


Namun, adakalanya jika karakter dan kekuatan kita lemah dan tidak kuat. Kita akan menjadi seperti tanggul yang dibangun dengan kualitas material yang tidak bermutu juga kita tentu akan menjadi seperti sebuah rumah yang didirikan di atas dasar pasir kemudian saat masalah dan banjir datang menghantam dengan hebat besar kemungkinan kita akan roboh dan hancur. Demikian pula tanpa sadar atau tidak kita dengan cukup mudah dapat kompromi dan akan ditaklukkan oleh masalah, tekanan serta badai yang datang terhadap kita. Karena karakter dan kekuatan kita semata penampilan  perhiasan dari luar saja dan bukan dibentuk dari dalam.


Saya dengan sepenuhnya menyadari dengan hal ini bahwa memang menjadi pribadi yang berkualitas dan memiliki kualitas karakter sejati yang tahan uji itu memang tidak segampang seperti yang kita semua bayangkan. Ia memperlukan usaha yang kian panjang dan tidak bisa terjadi dalam waktu yang relatif singkat atau lebih jalas lagi ia tidak instan. Bahkan dengan berani kita mesti mengambil semua resiko buruk serta membayar harga. Menjadi pribadi yang berkarakter tangguh dan tahan uji pula keluar dari zona nyaman (comfort zone) meskipun itu keputusan yang sulit bukan menyayangi diri atau pun terlalu terikat erat dengan ikatan tali rasa nyaman diri, menyangkal diri serta membayar harga. Penulis Gail Sheeht mengatakan:


Jika tidak berubah, kita tidak akan pernah bertumbuh, kita tidak benar-benar hidup. pengembangan diri menuntut kita meninggalkan ‘zona nyaman’ untuk sementara waktu. Hal ini bisa berarti melupakan pola-pola yang membatasi namun sering kali kita lakukan, pekerjaan yang terjamin namun tidak memberi hasil yang sesuai, nilai yang tidak dihayati juga hubungan yang sudah kehilangan makna. Seperti yang dikemukakan Dostoevky, mengambil langkah dan mengungkapkan perakataan baru adalah hal yang paling ditakuti kebanyakan orang ‘ketakutan seharusnya muncul dalam bentuk yang benar-benar berbeda.

 

Perubahan dan pertumbuhan dalam hidup merupakan selalu menjadi kebutuhan paling utama bagi semua orang di planet ini. Saya yakin betul bahwa semua orang pasti memiliki kedambaan dan harapan tersebut. Meskipun demikian saya pun yakin bahwa hanya terlalu sedikit sekali orang yang mau meninggalkan zona nyaman mereka. Karena pada realitasnya, manusia selalu ingin menyendiri ketimbang hidup bersama.


Itu sebabnya kutipan tersebut di atas secara tegas mengindikasikan kepada mereka yang ingin berubah atau ingin memiliki kualitas karakter baru yang tangguh dan tahan uji tetapi tidak benar-benar memiliki hati untuk berubah. Jadi, saya mau tekankan lagi bahwa transformasi itu ditakdirkan bagi mereka yang memiliki kerendahan hati, jiwa yang hancur, lembah lembut untuk terus belajar mendengar, meraparasi diri, memodifikasi diri, tidak menyayangi diri serta kenyamanannya.


Selanjutnya, selain membayar harga, sangkal diri dan tinggalkan zona nyaman formasi dan pertumbuhan karakter sejati ini pula berbicara tentang soal pilihan. Memilih untuk tidak menyangi diri sendiri. Memilih untuk tinggalkan zona nyaman  (comfort zone) dan atau memilih untuk keluar dari tempat yang lama lalu berpindah ke tempat bar yang lain. Memilih untuk dengan rela menerima tiap resiko dan tantangan. 


Memilih untuk mengubah pilihan atau keputusan yang sudah dibuat untuk memperoleh karakter yang sejati. Atau sebaliknya, memilih untuk tetap menyayangi diri ataupun mencintai zona nyaman kita demikian pula memilih untuk tetap berpegang teguh atau bersi keras pada prinsip pribadi. Itu semua tergangung pada keputusan dan pilihan kita masing-masing. Kita bisa putuskan sendiri dengan bebas. Karena kita semua punya kehendak bebas (free will) yang sama. Pilihan selalu ada di genggam tangan kita masing-masing.


Tapi sekali lagi saya mau tegaskan bahwa setiap keputusan dan pilihan yang kita buat tentu senantiasa akan ada konsekuensi yang mesti akan dilibatkan aksi yang konsisten untuk realisasinya dan kita semestinya bertanggung atas itu. Itu sebabnya diperlukan kebijaksanaan agar kita bisa lebih berhati-hati dalam mengambil suatu pilihan tertentu.


Karena jika tidak demikian atau jika pilihan yang kita buat itu tidak berdasarkan nurani kita maka bisa dipastikan bahwa kita kemudian bisa jadi kecewa dan akhirnya sebagai akibatnya kita dengan mudah dapat tenggelam ke dalam lautan frustrasi yang kian mempedihkan. Pun hasil dari ketidakbijaksanaan dalam memutuskan atau memilih ini tidak hanya akan mempengaruhi dalam formasi karakter akan tetapi pengaruh itu terus akan terbelit mempengaruhi masa depan kita pula. Sebab setiap bentuk pilihan, entah itu pilihan baik maupun buruk yang kita buat tentu sangat menentukan masa depan kita. Sebab pepatah kata pernah menuturkan 


Apapun pilihan yang kita buat hari ini akan menentukan masa depan kita


Oleh karena itu saya mendorong sekaligus merekomendasikan kapada setiap kita bahwa selagi masih mudah, jiwa masih sehat, akal masih sehat juga selagi energy dan power masih utuh dan energik, mari kita terus memulai membangun kembali karakter yang tangguh dan tahan uji bukan model karakter yang hanya terlihat kukuh dari luar saja namun mesti dibangun dari dalam. 


Karena jika karakter kita hanya dibangun dari luar saja dan tampak kuat hanya dari penampilan fisik luar saja padahal dalamnya rapuh dan keropos maka bisa dipasikan kita dengan mudah akan diombang-ambingkan serta akan terhanyutkan oleh arus badai hidup. Kualitas ketangguhan karakter kita yang sejati akan terbukti saat TUHAN  mengizinkan banjir, badai, tekanan, masalah dan ujian datang menghantam dengan hebat dan kita pun tetap kuat bertahan pada posisi serta dengan tabah melawanya sehingga niscaya kita pun akan keluar sebagai seorang pemenang sejati.



Penulis adalah mahasiswa Papua yang sedang menempuh pendidikan di Universitas STBA LIA (Sekolah Tinggi Bahasa Asing) di tanah rantauan kolonial Yogyakarta.


No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Terimakasih anda sudah bagikan