Kebangsaan dan Nasionalisme Adalah Pusat Cinta - Dogaiye Post

Breaking

Home Top Ad

No Dialog; Yes Referendum

SEGERA

Bebaskan Tahanan Politik Papua

Saturday, April 25, 2020

Kebangsaan dan Nasionalisme Adalah Pusat Cinta



Arnold C. Ap dan teman-temannya di grup Mambesak


Oleh:Yubal Nawipa

Sa mau sapa dolo:
Amolongo, Nimo, Koyao, Kinaonak, Nare, Yepmum, Dormum, Tabea Mufa, Walak, Foi Moi, Wainambe, Nayaklak, waa, waa, waa, waa, waa, waa,!

Tulisan singkat ini merupakan salah satu usaha MELAWAN LUPA. Pas tengah malam  minggu tanggal 26 April 2020 sa lagi mempersiapkan diri untuk memulai tulisan ini dan sudah  berkomitmen  agar  sepenggal tulisan ini  dilayangkan sebelum malam larut menemui  pagi  tetapi justru meleset  karena keterbatasan satu dan lain hal sehingga tidak sesuai rencana.

Momen yang bertepatan dengan hari kematian bapak kita Arnold C. Ap saya mencoba merangkai pandangan  menurut saya mengenai kebangsaan dan nasionalisme. Arnold C. Ap kerapkali  banyak orang menjuluki dengan sang pemersatu bangsa  ada juga yang menyebutnya bapak budayawan bagi bangsa Papua. Keduanya benar adanya. Tergantung siapa mau menyebut apa. Sebab melalui grup yang dicetuskan yakni MAMBESAK mampu memperkokohkan ketika bangsa Papua mengalami ancaman/represif secara fisik dan mental  dari NKRI sejak 1980an silam.

Didalam jiwa manusia ada rasa seperti rasa senang, sedih, suka, duka, sakit, cemburu, hiba, dongkol, gundah, muak, dendam, ragu,  benci dan sebagainya. Hanya saja tingkatannya berbeda-beda pada setiap individu. Ada yang gampang tergiur, terpesona, dan tergugah tergantung sentimentil. Kalau bunyi ada yang suka musik keras (rock) yang lain suka alunan musik yang  lembut. Untuk warna ada yang lebih suka  natural, asli, ada yang suka dengan warna yang penuh dengan ekspresi emosional.

Demikian pula dengan rasa kebangsaan. Rasa kebangsaan ialah salah satu bentuk rasa cinta bahkan pusat dari berbagai kumpulan rasa cinta yang kemudian melahirkan jiwa kebersamaan dengan identitas tersendiri dari penganutnya. Bangsa adalah suatu kelompok manusia yang dianggap nasional memiliki identitas bersama.

Maka kemudian mereka menciptakan lagu kebangsaan untuk menghadirkan berbagai rasa. Kemudian untuk warna bendera dan lambang negara dibentuk dan dipilih  berdasarkan sesuatu yang  menjadi kultur dari bangsa tersebut sehingga menimbulkan pembelaan yang kuat terhadap kebangsaannya. Hal ini terlihat ketika suatu bangsa-Negara berhasil meraih kemenangan dalam suatu pertandingan maka lambang dan bendara menjadi simbol yang siap dijaga untuk mengibarkan dari tempat tinggi dan penganutnya akan berlinang air mata sebagai tanda cinta dan bangga terhadap bangsanya.

Berbicara soal nasionalisme sudah barang tentu ada kaitannya dengan kecintaan terhadap wilayahnya atau indentitas bersama. Maka perlu dipahami bahwa Nasionalisme bukanlah sesuatu  yang bagitu saja jatuh dari langit. Tetapi pasti memiliki sejarah atau histori yang panjang yang tidak jarang bermula dari kolonial itu sendiri. Nasionalisme adalah antikolonialisme, fungsinya menjaga  mempertahankan keutuhan wilayahnya dari berbagai macam friksi.

Lahirnya nasionalisme Papua adalah bukti antikolonialisme Indonesia. Salah  satu gerakan antikolonialisme adalah muncul  semangat nasionalisme melalui Group Musik Mambesak yang diorbitkan pada tahun 1980an dipelopori oleh dua orang musisi notabene vokalis Papua yakni Arnold Clement Ap dan Eddy Mofu. Kedua musisi memprakarsai  membentuk group ini untuk membangkitkan semangat nasionalisme cinta terhadap  tanah air bangsa Papua.

Lagu-lagu yang terangkum dalam group  Membesak tidak hanya satu bahasa saja namun dari berbagai bahasa-daerah baik dari pegunungan, lembah, dan pesisir Papua. Sehingga ketika mendengar lagu-lagu tersebut menyetuhlah hati masyarakat Papua bahkan sampai air mata berlinang. Upaya membentuk group Mambesak adalah untuk membendung arus pengaruh Melayusasi terjadi beriringan dengan dominasi, monopoli,  yang dominan di berbagai sektor diatas tanah Papua.

Alunan musik yang sederhana dengan suara yang cukup merdu dapat menenangkan jiwa. Berkat adanya mambesak memberi motivasi dan membakar semangat kepada masyarakat Papua. Semua lagunya, terus masih eksis dan mengalun indah di atas tanah Papua menghibur ditengah pesatnya perkembangan dunia sembari mengatakan kepada dunia bahwa kami ada sebagai bangsa Papua ras Melanesia dulu, sekarang dan selamanya.

Kematiannya selalu dikenang oleh masyarakat Papua setiap tahun tepat 26 April. Kematiannya dipaksakan maut menjemputnya. Akhirnya pencipta lagu “Hidup ini Suatu Misteri” harus mati dengan cara misterius. Mungkin benar slogan berikut ini: “Barangsiapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaan dirinya sendirinya”—TAN MALAKA. Sepertinya takdir bagi orang-orang hebat adalah cita-cita/dambaan mereka belum tercapai.

Tubuhnya akan selalu ada dalam pelukan mama tanah Papua dan  pohon yang  akar-akarnya merambat ke tanah meresap darah pendahulu memberi mineral menghasilkan semakin banyak  benih-benih watak revolusioner. Itulah makanya dalam liang kubur suara para pejuang pendahulu akan lebih besar. hilang satu tumbuh seribu.

Penulis adalah Mahasiswa Papua kuliah di Yogyakarta



No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Terimakasih anda sudah bagikan